Air adalah surgaBagi kami yang bernapas di neraka tak berapiMenghirup kekhwatiran orang-orang hidup dan mati Panasnya nyata mengejar ulu hati, menyobek kulit tipis bertelanjanganAkan semakin membara ketika lihat ke atasPada tangan-tangan yang tertawa, si pengendali dunia Tong itu seakan berjalan sendiriAnak kecil melamun nasib di depan antriIbu menyusur jalan berbatu dengan harga hidup keluarganya Lihat,Lanjutkan membaca “Penggoda Handal”
Arsip Penulis:Cirro
Pendosa
Jas putih itu berbicara tentang alasan mengapa dadaku bisa menangisAda genangan luka makian di tempat kosong Tidak bisa menyurutTidak bisa mengalir ke wajah Biar membusuk jadi bukti bahwa engkau seorang pendosa
Kenapa Kamu Tidak Abadi?
Botak lalu tergurai kembali, rambut yang menghalangi netraku. Tidak membantah hawa hadirmu di bawah payungku. Sebagaimana langit biru, senyummu meluas penuh cinta. Sekilat angin yang menghampiri, langkahmu ringan memberiku hidup. Hidup yang melebihimu. Terkadang merenung, ini hukuman. Berdiam sendiri di tengah ladang kesepian. Sampai kehadiranmu sudah tak berjejak. Kenapa kamu tidak abadi?
Waktu Kita
Daun jatuh berlarian,mengejar kita yang jalan berdua di sekeliling renjanaAngin bergelayutan,merajuk bila diam terus menetap di antara ruang kitaLalu, tanah berloncatan ke tepi,mereka menangisi kita yang bergandeng dalam gelap dan sepinya bumi
Bunga Plastik
Yang dianugerahkan ibu hari itu palsu yang diagungkan, buruk yang diidamkan Mengapit celah rambutku, plastik yang cantik Dibiarkan tak cemberut dibiarkan pun tak merajuk dilupakan tak akan layu cukup dilekat, mekar ini kekal
Tas Kosong
Dari tumpukan sampah, tas kosong kini berjalan mencari wawasan ke sekolah untuk melepas, untuk menikam dendam, untuk membasmi kondisi sakit tak berobat, kemiskinan
Kota Besar
Di kota besar yang berujung gedung-gedung. Pembatas jalan dengan yang sudah aku lepas perih daun-daun. Segenggam ambisi bernaung resah dalam saku. Mata memburam melihat dunia baru. Tak kuasa berkedip seakan banyak embusan emas melewatiku tanpa sapa. Tersadar bahwa kota besar mempunyai misteri. Di mana sumber inginku mengalir menggantikan air mataku. Di mana tawa lepas takLanjutkan membaca “Kota Besar”
Makanan si Kaleng
Kaleng menyaring kejatuhan logam menarik senyum. Sekali terdengar kakiku berlari lagi. Kebersamaan di dalam mesti dipertahankan. Lubang sempit berusaha baik tanpa menyempit. Karena makanan si kaleng tidak bisa berubah lebih tinggi. Dan tanganku tak sanggup menyusun gunung. Semua melaju hingga mata menggeledah jalan. Batas diri diluaskan bermodal prinsip jangan pingsan. Ujungnya hanya berjumpa kekosongan. SuatuLanjutkan membaca “Makanan si Kaleng”
Lautan Fakta
Kemarin sebuah kabar angin sampaiHari ini datang lagi Ia jalan sendiri tidak dipanggil Menyisir fakta, menggunung ceritaMenimbun kesejukan dengan panas Luntang-lantung tak pasti Manusia silih beropiniBenar salahnya urusan nanti Warna jadi hampa, binar padam Luntang-lantung mengetuk indraMenyangkal, kegiatan baruBodoh digelarkanLautan fakta dibendung hati salahMalu. Menyangkal jadi kegiatan baru
Pergi Tanpa Pamit
Terbiasa digerak rotasiKaki suka diam seolah punya pondasiPondasi gaib, tembus pandangYang dalamnya rapuh dan tak mampu Sekali kedip orang-orang berevolusi Dinantikan bayu yang mendorong Dorongan lewat mulut sudah basi Dari garis awal yang berbeda, tidak sudi Silakan pergi tanpa pamitTidak akan ada yang melambai, yang senyum, yang pahit Ada atau tidak semua jalan di lintasanLanjutkan membaca “Pergi Tanpa Pamit”